Cerita keseharian Bu Mecil beserta perasaannya, dan imajinasinya, dan para rekannya yang aneh-aneh.
Kamis, 07 Agustus 2014
ketika semua harus kembali ke "letting go"
Pada lebaran minggu lalu saya menjalankan ibadah Salat Id di sebuah masjid yang cukup dikenal di Depok: Kubah Emas. Keterlambatan kami sekeluarga saat berangkat ke masjid tersebut, ditambah banyaknya jamaah yang sama-sama hendak bersembahyang di Kubah Emas "memaksa" kami sekeluarga untuk akhirnya salat di luar bangunan masjid, bahkan diluar pagar.
Alhamdulillah, meski spot kami solat bukanlah lokasi nyaman (solat di atas jalan, tanpa alas koran), saya akhirnya bisa menikmati ceramah yang dilakukan seusai salat tersebut. Sebenarnya latar cerita tentang tema "maaf" di pagi itu bukanlah sesuatu yang baru buat saya. Tentang didatanginya seorang yang sakit oleh Rasulullah saw, meski orang yang sedang sakit itulah yang semasa sehat sering melempari Rasulullah saw dengan kotoran setiap kali beliau lewat di depan rumahnya. Sebegitu buruknya perlakuan si sakit kepada Rasulullah namun tetap dibalas dengan perlakuan sangat baik. Sebegitu ringannya Rasulullah memperlakukan orang lain yang tidak pernah memperlakukannya dengan baik, secara sangat baik.
Masih melanjutkan tema "maaf" di atas, mungkin dari cerita tentang Nabi itu sebagian dari lo akan berkata "ya jelas lah, dia kan nabi. kita cuma manusia". Oh ya, memang kita cuma manusia. Tapi, bukankah nabi pun bukan malaikat? Mereka diutus Yang Maha Kuasa untuk menjadi manusia teladan bagi manusia-manusia lain pada zamannya. Dan, Nabi terakhir yang saya dan umat agama saya percayai adalah Muhammad. Maka, apa yang ia alami berikut cara dia mengatasinya adalah "pedoman" bagi manusia di zaman kita: memaafkan.
Kembali ke Salat Id pagi itu, saat ceramah berlangsung, saya entah kenapa justru mengingat orang lain yang nggak saya sangka akan diingat. Dia sebenarnya bukanlah penjahat, begitupun bukan pelaku kejahatan bagi saya. Masalahnya, sampai di hari itu saya masih merasa belum "ikhlas" dengan apa yang telah ia lakukan pada saya. Saya merasa dia bagaimanapun sudah salah, dan sayalah korbannya. Benarkah kenyataannya demikian?
Pada dasarnya, setiap "kesialan" yang kita alami bersumber dari diri sendiri. Karena, setiap jengkal langkah kita nggak akan mengantarkan kita ke tujuan kalau hati nggak pernah ingin ke sana, juga kalau otak tak pernah menginginkannya. Nah, begitupun dengan orang yang saya anggap sudah "menyakiti" saya tersebut. Jika saya nggak pernah mengizinkan itu terjadi, tidak pernah memberi celah agar kekeliruan terjadi, jika saya benar-benar tidak pernah memikirkannya, maka segala "kesialan" itu juga nggak akan pernah saya alami. Sayalah penyebab kesedihan itu terjadi. Sedangkan, orang tersebut, meski salah tapi bukan penjahat. Ia melakukannya dengan alasan logis, dan ia sangat layak dimaafkan. Dan, ketika saya sudah secara ikhlas memaafkannya, frasa "letting go" itu benar-benar sudah terwujud. Letting go. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu, maafkan yang sudah "menyakiti"mu, jadikan kesalahanmu sebagai sumber pembelajaran, dan lanjutkan hidup sebaik mungkin. Apa? Nggak gampang? Ya iyalah. Saya kan nggak pernah bilang "letting go" itu mudah. Tapi saya ingin menegaskan (juga mengingatkan ke diri sendiri), bahwa usaha kita untuk bisa "letting go" sepenuh hati akan menghasilkan sesuatu yang juga sangat memuaskan, sangat melegakan yaitu ringannya hati. Hati yang ringan akan menjauhkan siapapun dari kesedihan dan "mengontrak" lama-lama kebahagiaan. Nggak ada satu pun orang di dunia ini yang nggak mau bahagia, kan?
Saya sejauh ini sudah menganggap apa yang pernah terjadi antara saya dan orang tersebut hanyalah bagian masa lalu yang karenanya tidak perlu "dilibatkan" lagi ke masa kini dan masa depan kita. Lagipula, kalau memang orang tersebut sebegitu berharganya untuk dipikirkan, seharusnya ia tidak menyakiti kita, seharusnya ia lebih mempertimbangkan perasaan kita. Come on..ruang hati kita jelas nggak layak diberikan ke orang yang nggak pantas memilikinya. Berikan hati dan pikiran hanya pada mereka yang juga melakukan hal yang sama pada kita. Saya dan, ya, kamu juga. Masing-masing manusia terlalu berharga untuk disakiti dengan cara apapun, kan?
Selamat "melepaskan pergi" kejelekan-kejelekan masa lalu kamu, teman. :)
Senin, 04 Agustus 2014
ditemukan: iPad!
Apa yang ada di benak lo semua ketika membaca kalimat yang jadi judul di atas di sebuah papan pengumuman? Sebagian, gue rasa, akan takjub dengan jenis benda yang diumumkan di papan tersebut. Bukan dompet (yang kadang nggak begitu bernilai karena isi uangnya mungkin nggak seberapa dan kartu ATM yang nggak secara langsung bernilai materi), bukan handphone (yang bisa ditakar berapa harganya dan hanya sedikit orang yang memiliki handphone pintar dengan harga di atas 5 juta rupiah. iPad (nggak pake mini), banyak manusia bisa menebak berapa harganya. Kembali ke sebagian orang yang akan takjub dengan jenis benda yang diumumkan, ada pula jenis orang kedua yang cenderung lebih pintar dari yang pertama. Kenapa? Karena ia melihat “cahaya terang” dari pengumuman tadi. Sesuatu yang mungkin juga dipikirkan banyak orang, tapi hanya orang dengan nyali besar yang benar-benar mampu menjalankan niatnya. Dan, apakah niat itu
“Come and get it!” bahasa kerennya. Akuin aja ke si pemilik
papan pengumuman itu bahwa iPad yang ditemukan itu milik lo. Lagipula, toh si
pemilik papan nggak akan benar-benar mengecek kebenaran si orang yang mengaku
pemilik “barang yang ditemukan” itu. Apakah hal selicik itu bisa terjadi? Bisa
banget. Tapi apa benar akhirnya terjadi? Nah, di pengalaman saya, pada layar
LCD masjid tempat saya solat dan mendengarkan ceramah hampir setiap harinya
itu, pengumuman “ditemukan: iPad” itu bertahan sangat lama. Begitu lamanya
hingga saya merasa nyaris setahun benda itu terus diumumkan di layar yang sama.
Pertanyaannya, mengapa masih ada benda berharga itu di sana? Kenapa masih belum
juga ada orang yang mengakuinya? Masihkah lo percaya sebagian besar orang
bahkan masih nggak kepikiran untuk mengakui benda memang bukan miliknya?
Pengumuman “barang ditemukan: iPad” itu memang akhirnya
menghilang setelah sekian lama. Tapi, eksistensinya yang nggak sebentar itu
membuat saya cukup kagum betapa sebagian besar orang masih menaruh kejujurannya
diatas “kesempatan” yang ada di depan mata. Lagipula, jika dipikirkan secara
terbalik, kejujuran juga ada pada si penjaga masjid yang terus menerus menjaga “keimanan”nya
dengan tidak gegabah memperlakukan barang temuan yang kebetulan berharga itu. Tentu
akan sulit terus menjaga barang berharga milik orang lain yang ia sendiri tak
pernah kenali, tanpa godaan untuk diam-diam memiliki, jika tanpa iman.
I-m-a-n.
Keimanan pada agama yang ia yakinilah yang membuat penjaga masjid itu terus
mempertahankan kejujuran: tidak lelah menjaga barang temuan, tidak bosan untuk
terus mengumumkan, dan tidak menyalahgunakan benda temuan tersebut. Iman jugalah yang sampai saat ini masih gue yakini sebagai “benteng”
manusia untuk tetap berbicara apa adanya (tanpa unsur menyakiti hati orang
lain), menjaga amanah, serta melakukan apa yang benar menurut agama yang diyakini.
Kejujuran itu masih ada seandainya aja masih banyak orang melakukannya.
Ya, jujur
saja, dan hidup lo akan lebih bermakna.:)
Minggu, 13 Juli 2014
Sebuah fase baru, hidup baru
0.14 adalah waktu yang ditunjukkan ketika gue berusaha mengetik dan menyelesaikan tulisan ini. Nggak terasa, seperti baru beberapa jam lalu gue mengucapkan kata "Ya Allah enak banget..ini masih malam Sabtu, besok dan lusa libur, trus Senin cuti!". Hm.. jadi 2x24 jam sekarang bisa disamakan dengan 15 menit ya. Benarkah demikian?
Fase hidup memang terus berputar, pasti maju, nggak pernah istirahat apalagi mundur. Ia selalu kompak dengan waktu. Buat lo, gue, dan banyak orang di dunia ini yang selalu mengeluh "kurang waktu" atau sering pakai kalimat andalan "seandainya gue punya lebih banyak waktu", stop it. Waktu itu sebenernya selalu ada, kalkulasinya nggak pernah berubah. Cara kita masing-masing dalam menggunakan waktulah yang berubah-ubah.
Gue adalah yang sempat "mencicipi" manisnya "waktu yang panjaaaang" sampai kepanjangan dan bisa "dibunuh" dengn melakukan hal-hal bodoh seperti bermain game dan baca komik dan nonton drama Jepang dan lain-lainnya. Masih bisakah sekarang gue lakukan itu semua?
Kalau menuruti "otak malas", pasti jawabannya "ah gila nggak bisaaaa!". Ya iyalah, bersantai adalah "cara kerjanya hidup pemalas, atau seenggaknya yang gak begitu malas tapi belum punya kerjaan jelas". Gue dikondisikan untuk tidak bisa lagi jadi pemalas, maka jawaban gue adalah "sayangnya nggak bisa, tapi setiap waktu yang gue habiskan sekarang berguna untuk gue dan keluarga. Ya, meski sangat..sangat melelahkan".
Kembali ke soal fase hidup, hari ini, tepatnya 6 jam kedepan adalah sebuah fase hidup baru untuk gue, yaitu menjadi orang tua murid. Iya sih, beda dari fase sebelumnya cuma di kata "murid". Tapi, ada banyak tantangan di depan yang harus gue hadapi di fase menjadi orang tuanya seorang murid bernama Elska ini. Besok boleh jadi dia baru akan mencicipi bangku playgroup. Tahun depan juga belum terlalu serius: TK. Dua tahun lagi? Ada persyaratan yang (sekarang ribetnya) harus dipenuhi untuk calon murid SD. Belum lagi masalah memperebutkan kursi murid di sekolah unggulan, berhadapan dengan wali kelas, bersedia menerima kritik dari lingkungan sekolah anak, membantu PR anak, menasehati El bahwa "mengurusi sekolah itu lebih penting" saat kelak dia sadar makhluk bernama "cowok" itu menarik, membantu mengarahkan pilihan jurusan dia saat SMA, berdebat dengan dia saat memilih jurusan kuliah, dan segudang "tantangan" lainnya.
Tapi, seberat apapun tantangan itu, gue yakin ketika pada saatnya menghadapi itu: wajah gue tersenyum. Anak gue cuma satu (dan gue nggak pernah tau seberapa besar peluang gue bisa punya anak lagi), maka fase hidup dia adalah fase hidup gue juga. Kebahagiaan dia adalah kebahagiaan gue juga. Prestasi dia adalah kebanggaan gue juga. Dan, yang terpenting, karena fase itu cuma berlangsung 1x seumur hidup, setiap jengkal fase itu adalah anugerah dan kenikmatan. Kenapa? Karena banyak diluar sana yang memohon-mohon untuk diberi kesempatan mereguk fase kehidupan di dunia, tapi Tuhan belum mengizinkannya. Banyak yang meraung-meraung meminta fase "menjadi orang tua", tapi Tuhan punya kehendak berbeda.
Memang waktu sudah menunjukkan pukul 01.47. Tapi, fase hidup gue masihlah panjang. Masih ada banyak hal keren yang akan gue hadapi dan dapatkan, jadi ada lebih banyak hal untuk jadi bahan senyuman daripada kekhawatiran. Lalu apa yang gue harus lakukan sekarang? Bukan cuma gue sih, lo juga. Kita harus sama-sama beristirahat cukup untuk memastikan besok kewarasan kita masih ada. Waras adalah cara gue mendefinisikan gabungan dari "sadar"+"khawatir"+"bahagia"+"sedih"+"penyelesaian masalah"+"tertawa". Semua unsur hidup itu akan selalu ada di setiap fase. Stop worrying and start doing. Hoaaaaahm!
Fase hidup memang terus berputar, pasti maju, nggak pernah istirahat apalagi mundur. Ia selalu kompak dengan waktu. Buat lo, gue, dan banyak orang di dunia ini yang selalu mengeluh "kurang waktu" atau sering pakai kalimat andalan "seandainya gue punya lebih banyak waktu", stop it. Waktu itu sebenernya selalu ada, kalkulasinya nggak pernah berubah. Cara kita masing-masing dalam menggunakan waktulah yang berubah-ubah.
Gue adalah yang sempat "mencicipi" manisnya "waktu yang panjaaaang" sampai kepanjangan dan bisa "dibunuh" dengn melakukan hal-hal bodoh seperti bermain game dan baca komik dan nonton drama Jepang dan lain-lainnya. Masih bisakah sekarang gue lakukan itu semua?
Kalau menuruti "otak malas", pasti jawabannya "ah gila nggak bisaaaa!". Ya iyalah, bersantai adalah "cara kerjanya hidup pemalas, atau seenggaknya yang gak begitu malas tapi belum punya kerjaan jelas". Gue dikondisikan untuk tidak bisa lagi jadi pemalas, maka jawaban gue adalah "sayangnya nggak bisa, tapi setiap waktu yang gue habiskan sekarang berguna untuk gue dan keluarga. Ya, meski sangat..sangat melelahkan".
Kembali ke soal fase hidup, hari ini, tepatnya 6 jam kedepan adalah sebuah fase hidup baru untuk gue, yaitu menjadi orang tua murid. Iya sih, beda dari fase sebelumnya cuma di kata "murid". Tapi, ada banyak tantangan di depan yang harus gue hadapi di fase menjadi orang tuanya seorang murid bernama Elska ini. Besok boleh jadi dia baru akan mencicipi bangku playgroup. Tahun depan juga belum terlalu serius: TK. Dua tahun lagi? Ada persyaratan yang (sekarang ribetnya) harus dipenuhi untuk calon murid SD. Belum lagi masalah memperebutkan kursi murid di sekolah unggulan, berhadapan dengan wali kelas, bersedia menerima kritik dari lingkungan sekolah anak, membantu PR anak, menasehati El bahwa "mengurusi sekolah itu lebih penting" saat kelak dia sadar makhluk bernama "cowok" itu menarik, membantu mengarahkan pilihan jurusan dia saat SMA, berdebat dengan dia saat memilih jurusan kuliah, dan segudang "tantangan" lainnya.
Tapi, seberat apapun tantangan itu, gue yakin ketika pada saatnya menghadapi itu: wajah gue tersenyum. Anak gue cuma satu (dan gue nggak pernah tau seberapa besar peluang gue bisa punya anak lagi), maka fase hidup dia adalah fase hidup gue juga. Kebahagiaan dia adalah kebahagiaan gue juga. Prestasi dia adalah kebanggaan gue juga. Dan, yang terpenting, karena fase itu cuma berlangsung 1x seumur hidup, setiap jengkal fase itu adalah anugerah dan kenikmatan. Kenapa? Karena banyak diluar sana yang memohon-mohon untuk diberi kesempatan mereguk fase kehidupan di dunia, tapi Tuhan belum mengizinkannya. Banyak yang meraung-meraung meminta fase "menjadi orang tua", tapi Tuhan punya kehendak berbeda.
Memang waktu sudah menunjukkan pukul 01.47. Tapi, fase hidup gue masihlah panjang. Masih ada banyak hal keren yang akan gue hadapi dan dapatkan, jadi ada lebih banyak hal untuk jadi bahan senyuman daripada kekhawatiran. Lalu apa yang gue harus lakukan sekarang? Bukan cuma gue sih, lo juga. Kita harus sama-sama beristirahat cukup untuk memastikan besok kewarasan kita masih ada. Waras adalah cara gue mendefinisikan gabungan dari "sadar"+"khawatir"+"bahagia"+"sedih"+"penyelesaian masalah"+"tertawa". Semua unsur hidup itu akan selalu ada di setiap fase. Stop worrying and start doing. Hoaaaaahm!
Seperti..
Aku mencintaimu seperti awan
Perlahan tapi pasti bertahan dan menjadi hujan
Yang tak pernah berharap pujian
Meski hadirnya akhiri seluruh kekeringan dan muram
Aku mencintaimu seperti pelangi
Yang hadir kala harimu tak berwarna warni
Menghibur hati setiap pemujanya sebelum mentari kembali tiba
Membawa kembali jiwamu yang terbang jauh entah kemana
Aku mencintaimu seperti malam
Yang mengistirahatkan manusia dari kepenatan
Dan menempatkan kembali perasaan diatas pemikiran
Menjadi penyeimbang kala pagi belum lagi datang
Aku mencintaimu seperti embun
Sejukkan jiwa sewaktu manusia belum lagi terjaga
Sebelum kamu ingat bahwa aku ada
Lalu menghilang ketika semua kembali bergerak sempurna
Aku mencintaimu seperti gerimis
Senantiasa ada antara terik dan hujan
Yang belum mau pergi karena kerjanya sudah "dikontrak" Tuhan
Tapi tetap menetes dan membuat lara jiwamu, dia, dan mereka hilang berganti harapan
Ya, cinta itu seperti...
Perlahan tapi pasti bertahan dan menjadi hujan
Yang tak pernah berharap pujian
Meski hadirnya akhiri seluruh kekeringan dan muram
Aku mencintaimu seperti pelangi
Yang hadir kala harimu tak berwarna warni
Menghibur hati setiap pemujanya sebelum mentari kembali tiba
Membawa kembali jiwamu yang terbang jauh entah kemana
Aku mencintaimu seperti malam
Yang mengistirahatkan manusia dari kepenatan
Dan menempatkan kembali perasaan diatas pemikiran
Menjadi penyeimbang kala pagi belum lagi datang
Aku mencintaimu seperti embun
Sejukkan jiwa sewaktu manusia belum lagi terjaga
Sebelum kamu ingat bahwa aku ada
Lalu menghilang ketika semua kembali bergerak sempurna
Aku mencintaimu seperti gerimis
Senantiasa ada antara terik dan hujan
Yang belum mau pergi karena kerjanya sudah "dikontrak" Tuhan
Tapi tetap menetes dan membuat lara jiwamu, dia, dan mereka hilang berganti harapan
Ya, cinta itu seperti...
Minggu, 10 November 2013
Di tempat kumuh ini..
Aku memandang ke sekelilingku. Rasanya, selalu tidak ada
yang berubah dari tempat ini. Selalu kotor, tak rapi, dan kumuh. Lantainya saja
selalu berdebu tebal; begitu tebalnya hingga setiap ada yang menyapu lantai,
debunya akan beterbangan dan membuat hampir semua orang yang berada di tempat
ini menutup mulut dan hidung mereka.
Lantai-lantai di tiap pojok malah biasanya berisi gunungan
sampah. Ini terkadang menimbulkan bau, terutama bagi mereka yang duduk di
bangku-bangku pojok. Tumpukan sampah ini kebanyakan adalah sampah kemasan,
seperti gelas-gelas plastik. Kulit-kulit buah pun tak absen memenuhi hampir
setiap pojok.
Ada banyak bangku yang berderet di sini. Tapi, lagi-lagi,
tidak semuanya utuh dan berfungsi. Malah, seringkali, ada sampah bekas makanan
atau bahkan air yang membasahi salah
satu dari deretan bangku ini, terutama di musim hujan. Ini karena pintu-pintu
yang ada tidak mampu menahan derasnya air hujan yang masuk dari luar. Lagipula,
bagaimana bisa menahan air hujan? Ditutup pun sudah tak bisa.
Dinding tempat ini ramai akan tulisan-tulisan tangan dan
stiker. Tulisan-tulisannya beragam, mulai dari tulisan iseng seseorang yang
seolah berusaha igin menunjukkan identitasnya dengan menuliskan nama sekolahnya,
nama orang, atau tempat orang ini tinggal dan berkuasa, sampai tulisan ungkapan
hati yang sepertinya tak tersampaikan. Satu kalimat tulisan yang paling kuingat
hingga sekarang adalah ‘gue yang nguasain Tanah Abang’. Kadang-kadang, tulisan
yang ada juga “dilengkapi” gambar, entah itu gambar wajah pria atau gambar-gambar
tak senonoh yang akupun malas melihatnya.
Kalau mengenai stiker-stiker, lain lagi. Biasanya yang
ditempel di dinding tempat ini stiker promosi, dari promosi alat penghemat
listrik hingga calon-calon kepala daerah. Sebagian ada yang masih utuh,
sebagian lagi cuma tersisa setengah karena telah dirobek paksa oleh seseorang. Tiang-tiang
yang berada tepat di atas deretan bangku seringkali kotor, atau setidaknya
licin berminyak. Aku tak heran. Setiap hari, ribuan manusia memang keluar-masuk
tempat ini. Aku tak dapat membayangkan seberapa banyak kuman yang menempel di
tiang-tiang itu.
Atap tempat ini juga sama saja. Tampak kotor dan berdebu,
terutama di dalam kipas angin yang hidupnya hanya sesekali itu. Debu coklat
kehitaman yang sudah memadat tampak menempel dalam kipas itu. Tapi, aku heran. Kenapa
setiap orang yang berlalu-lalang di tempat ini kelihatan tak terganggu dengan
kondisi alat transportasi yang mereka gunakan, ya? Kalau cuma pengemis yang
sekarang tengah menyeret-nyeret dirinya di atas lantai penuh debu dan tanah
sambil menengadahkan tangan ke setiap penumpang, sih, aku tak heran. Tapi,
kenapa orang-orang yang duduk di seberang bangkuku, yang berpakaian rapi
seperti layaknya pegawai kantoran, dan gadis muda di sebelahku, yang tampaknya
seorang mahasiswa, tampak nyaman-nyaman saja? Waktu aku menoleh ke jendela yang
kacanya sudah retak dan tidak dapat ditutup lagi, kulihat tulisan “Pondok Cina”
di luar sana. Ah, pasti stasiun tujuanku sudah dekat. Lebih baik aku berdiri
saja sekarang. Stasiun Universitas Indonesia pasti sudah “menunggu”ku seperti
biasa. :)
Kamis, 13 Juni 2013
(poem) Did you know?
Did you know?
I think about you
When the morning is still early
And the sky is still dark and empty
There's something I couldn't erase
That's simply your face
Did you know?
It's far from me to act immaturely
I'm not a teenager who looks for self identity
But this is something out of control
Makes me a bit fool after all
Did you know?
I ask God to make my mind more logical
Not because my love for you is irrational
But many things await in front of me
Things you surely couldn't see
Did you know?
I had butterflies fly inside my fat tummy
Everytime you talk silly
Everytime you pick a sticker that looks funny
Did you know?
Deep inside this sensitive part of organ
I hope this feeling will just run
So the butterflies give up and disappear
Let me away from another fear and tear
Did you know?
It's still early in the morning
I keep wondering why I had the feeling
And I think about you
Yes, I think about you.
Kamis, 26 Juli 2012
on the way to be a ..... servant
Ahem.
Ini posting pertama yang saya lakukan secara spontan, dan ditulis pagi-pagi pula. tanpa perencanaan. but, honestly, I guess I just should post any idea in my head.
Yang sedang kepikiran di benak saya sejak kemarin adalah "civil servant". hmmm.. Pernah terpikir kenapa orang bule memberi nama profesi ini dengan kata "servant".
Logikanya, "servant" itu berkewajiban melayani orang. Jadi, kalau statusnya "civil servant", harus mau dan ikhlas melayani kepentingan umum. Dan nggak usah mengeluh, karena usaha mereka pun nggak gratis. Pemerintah menyediakan dana khusus untuk membiayai kerja "civil servant" ini. Oh iya, buat yang belum familiar dengan arti "civil servant", dalam bahasa Indonesia, frasa ini diterjemahkan secara umum sebagai PNS.
Beberapa hari lalu, saya berepot-repot mengurus kelengkapan untuk melamar jadi seorang "civil servant". Nah, kembali ke soal niat melamar ini, lo tau sendiri kan bosley, urusan melamar kerja di departemen pemerintahan nggak pernah sederhana. Sebelum keterima, ada aja kelengkapan yang harus diurus dengan niat banget. Padahal baru di tahap seleksi pertama. Fiuhh!!
Dalam perjalanan saya mengurus ini-itu, otomatis saya juga bersinggungan dengan beberapa PNS yang berkewajiban membantu kepengurusan surat ini-itu tersebut. dan... saya datang pagi-pagi. sebenernya, untuk ukuran karyawan swasta, 8.30 pagi itu nggak pagi-pagi banget. dengan jam masuk rata-rata dimulai pada pukul 08.00, 30 menit setelahnya tentu sudah terpakai untuk mengerjakan tugas dan kewajiban di tempat kerja masing-masing.
Berbeda dengan salah satu kantor tempat saya mengurus kartu kuning. dari lobi, masyarakat umum diarahkan untuk berbelok ke kiri, ke tempat pelayanan umum berada. sambil ke arah yang ditunjukkan, saya sempat celingukan ke dalam sebuah ruangan.
Saya nggak tau deh, apa karena jumlah pegawainya yang sedikit sekali, atau sebagian besar belum datang kerja, tapi pemandangan yang saya lihat di ruangan itu adalah beberapa meja dan kursi kosong, serta TV yang menyala. hanya satu bangku yang terisi orang. itupun dia sedang menonton sambil tidur-tiduran. Hah!
Lalu sampailah saya di tempat pelayanan umum. Saya kan kakak sepupu yang saat itu ikut mengantar melihat pemandangan dua pegawai. Seorang bapak dan seorang ibu tengah mengobrol akrab. Sangat santai. Waktu ditanya dimana tempat mengurus kartu kuning, si bapak menjawab, "wah, Ibu ini yang mengurus.". Kemudian saya diarahkan untuk mengikuti si ibu yang ramah itu. Dalam hati saya berkata "enak betul kerja sesantai ini." Sampai dalam ruangan pelayanan umum pun suasananya nggak kalah santai. Menjelang jam 9, semua masih tampak berleha-leha. Ada juga yang baru terlihat datang. Bisa jadi memang jam kantor mereka molor karena kebijakan selama bulan Ramadan. Tapi, sampai di sini, saya bertanya pada diri sendiri (dalam hati) lagi, "beneran lo pengen jadi PNS? dengan ritme kerja yang kayak begini??".
Pertanyaan dalam hati itu juga dengan mantap saya jawab sendiri dalam pikiran. Bahwa, posisi yang saya lamar di sebuah departemen itu tidak sama seperti pns-pns yang saya lihat pagi-pagi di kantor itu. Saya kemungkinan akan begini...begitu... dengan tanggung jawab yang lebih berat pula.
Hmm, benarkah demikian?? Dalam hati saya, memang ada sedikit perasaan khawatir bahwa, yang namanya pns, ritme kerja dan kedisiplinannya tentu nggak jauh-jauh dari apa yang saya lihat di kantor pemerintahan pagi-pagi itu. Tak masalah di manapun saya ditempatkan, selama berstatus pns, peluang untuk merasakan berleha-leha pagi dan bersantai-santai kemudian tetap besar.
Satu hal yang masih mengusik benak saya. Semua pegawai pemerintahan yang saya datangi demi mengurus kelengkapan surat itu tak ada yang tidak "menadah tangan". Saya yang kala itu sedang berpuasa, ikhlas saja memberi tip pada mereka. Tapi, yang saya sesalkan, kenapa "tradisi" ini masih terus ada. Padahal pemerintah negara ini sudah meng-anggarkan dana untuk mereka yang bekerja di bawah bendera pemerintah. Mereka tidak ada di sana secara gratis. gaji, tunjangan, bonus, dan lain-lainnya pasti juga mereka dapatkan. Jadi, untuk apa lagi mereka menadah tangan??
Semoga kelak, di mana pun saya bekerja, kejujuran tetap menjadi panutan di kepala saya. Dan, amanah dari orang yang memberi saya kepercayaan untuk bekerja dengan maksimal, tetap saya jaga tanpa menadah tangan pada siapapun juga (amiiin). Saya punya anak. Saya takut memberi dia secuil pun uang yang menurut ustad tausiyah masjid yang biasa saya datangi adalah "uang yang bukan hakmu, meskipun diberikan secara ikhlas oleh pemiliknya".
(mps)
Langganan:
Postingan (Atom)

