Jumat, 11 November 2016

Masnya Gerah? Buka baju aja...

Eits..pada mikir apa nih begitu baca kalimat judul di atas?

Sebenarnya, kalimat judul itu adalah semacam rewritten "golden" line yang gue dapat dari Whatsapp orang. Maksudnya, chat Whatsapp dia ke gueee.



(Heheh. Ngagetin ya mas-mas londo negro di atas?)

Buat lo, apa sih sebenarnya arti dari aktivitas chatting via aplikasi smartphone? Buat bertukar informasi, berdiskusi, basa-basi, atau sekedar haha hihi? Apapun itu tujuannya, meski di ranah online (nggak terdengar & terlihat orang), gue rasa tetap ada etika nya juga tentang dengan siapa-topik apa-seperti apa frekuensi aktivitas chatting di aplikasi smartphone ini. Hampir mirip seperti komunikasi offline pake mulut, bertatap muka, berkontak fisik yang pasti kita alami sehari-hari.

Gue maklum banget, kalau etika-etika itu luntur alias nggak berlaku ketika komunikasi chatting itu dilakukan ke orang yang benar-benar dekat: keluarga, pasangan, teman akrab, dan sejenisnya. Tapi...kalau nggak dekat lalu nggak mikirin etika saat berkomunikasi online itu, kok rasanya gue "gatel" ya. Gatel yang bawaannya pengen garuk, gitu. Kebetulan kuku gue juga lagi panjang jadi memang agak sedap kayaknya kalo dipake buat ngegaruk orang. :)))))

So, begini intinya, beberapa waktu lalu, nggak ada hujan nggak ada gledek, tiba-tiba rekan kantor lama (rekan ya. gue lebih suka sebut itu karena kalo 'teman' itu ada kesinambungan komunikasi yang..nggak gue temukan di orang tersebut). Dia tiba-tiba aja, di pagi yang sebenarnya indah, mengirim pesan chat ke gue bahwa dia gerah dengan kelakuan temannya. Jujur aja, males banget membalas pesan orang macam begini yang nggak pernah berkabar, nggak pernah berusaha jalin komunikasi setelah pisah kantor, terus tiba-tiba "datang", ngeluh lagi.

Orang ini katanya "Nggak tahan lagi. Udah gerah dengan kelakuan temen gue". Siapa temen gue? Eits. Mau tau aja. :))) Dia mungkin mengkait-kaitkan gue dengan orang yang bikin dia "gerah" itu karena sebelumnya gue pernah ketemu, satu tempat kerja, satu bagian dengan di "makhluk penyebab gerah" tersebut (njir.. penyebab gerah...haha!). Yang nggak dia tau, gue sama sekali nggak akrab dengan makhluk penyebab gerah itu. Jangankan akrab. Ada keinginan buat komunikasi aja nggak. Yah.. lo pasti ngerti lah jenis-jenis spesies kantor itu kayak gimana aja. Mana yang layak jadi temen, mana yang cukup komunikasi soal kerjaan aja, dan mana yang bhaaaay! :))

Balik ke soal curhat mendadak itu, gue tungguin itu chat sampe basi. Setelah tunggu 24 jam, jawaban gue: Eh...ada musang.. (panggil aja musang lah ya), tumben banget negor. Temen siapa nih? Si beruang maksudnya? Dia jawab: Yaiyalah siapa lagi. (See? Dari jawaban balik dia aja udah ngajakin berantem. Seolah gue lah emak si beruang yang bertanggung jawab atas kegerahan dia. ~_~")
Dan gue jawab lagi: Oh, ya kalo gerah ya buka baju lah beroooh.

Dan dia nggak jawab lagi. :)))))))

Entah karena kesel, entah karena takut gue sampein curhatan dia ke "temennya penyebab gerah" itu atau..entahlah. Yang jelas, gue semakin heran aja dengan tipe chat macam jelangkung itu: datang tak dijemput, pulang tak diantar. Nggak pake basa basi, langsung "tembak" ke permasalahan. Nggak pernah kontak, tiba-tiba curhat, dengan pilihan bahasa yang nyebelin pula. Most importantly, the topic is soooo annoying since I personally never befriend with the person he talked about, so it's a sure thing that I don't care about it. Toh ketika masih satu tempat kerja, dia tahu betul kelakuan "makhluk penyebab gerah" itu seperti apa.

Apa gue kedengaran jahat? Lebih jahat mana coba, dengan musang yang melipir ke gue jaman dulu pas lagi resah galau dan memendam amarah (duh lebaynya '-_-), tapi waktu gue ketimpa tangga terus si musang lari, pura-pura nggak ngerti.

Makanya kalo gerah, ya buka baju aja mas. Mandi deh sekalian, trus ambil wudhu, solat, biar energi negatifnya berubah jadi aura positif.

Lastly, (ini general sih, nggak khusus buat hal ini aja), if you don't like where you are, move! You're not a tree! (taken from many..many Pinterest quotes.) Salam perdamaian!


Jakarta, 11 November, 8.26 p.m. Maxx Coffee.

Selasa, 18 Oktober 2016

Humanity in Weasley Family

Ada yang masih ingat gimana cerita Harry Potter dulu? Buat lo yang nggak termasuk potterhead (pecinta Harry Potter), mungkin agak mengernyit ya waktu disinggung ulang nama Weasley. Emang siapa sih Weasley?


So, Weasley adalah keluarga penyihir, terdiri dari ayah dan ibu (hya iyalah yaaa) dan 7 anak mereka. Salah satunya adalah Ronald Weasley alias Ron, rekan paling setia kawan Harry yang seandainya sampai nggak ada di cerita sih.. sorry to the mighty Harry Potter, nggak akan Harry punya cerita hidup yang semenarik cerita hidup dia yang kita tahu, baik dari film saja, dari buku saja, atau dari keduanya.

Kalau lo pembaca buku Harry Potter, pasti tau kalau Weasley adalah salah satu keluarga penyihir terakhir yang berdarah murni (atau istilahnya pure blood).  Dan, di tulisan ini, beberapa (hanya beberapa, walau aslinya mah banyak!) sisi "manusiawi" Weasley family yang membuat gue yakin menjadi topik menarik kali ini.

Pertama, Weasley family itu tipikal keluarga besar dengan anak banyak, layaknya keluarga jadul yang punya banyak "anggota" sehingga meriah suasana rumahnya. Kemeriahan itu terasa terutama karena rumah mereka juga biasa saja. Nggak besar tapi juga nggak kecil: cukup menampung semua anaknya yang unik-unik itu.

Kedua, sederhana. Keluarga berdarah murni lainnya yang dikenal di dunia sihir adalah Malfoy. Yah lo tau lah siapa tokoh paling dikenal di Malfoy family ini: Draco. Long-time Harry's foe. Bedanya, kalau Malfoy dikenal dengan kekuasaan dan harta mereka, Weasley sebaliknya: sangat sederhana dan apa adanya.

Ketiga, keluarga Weasley itu sangat lucu. Nggak cuma karena dua dari tujuh anak mereka (si kembar konyol) Fred dan George, tapi juga karena bapak mereka yang hilarious. Mr. Weasley adalah tipikal bapak-bapak pegawai pemerintahan yang agak polos karena dunianya emang muter-muter di situ doang. Rumah - kantor - rumah - kantor. Yah..karena dia di departemen yang berhubungan dengan Muggles (manusia non penyihir -red), kadang-kadang juga ditugaskan menyelesaikan persoalan ini-itu jadi traveling juga ke tempat muggles nya. Yang bikin lucu adalah, karena sering berhubungan dengan Muggles, pak Weasley ini suka agak terobsesi dengan dunia muggles, termasuk barang-barangnya. Gue sampe ingat salah satu kalimat konyolnya ke Harry ini (karena Harry kan seluruh anggota keluarga Bibi nya termasuk Muggles): "Harry, apa sih sebenarnya fungsi Bebek Karet?" :D :D :D

Keempat, Mrs. Weasley yang benar-benar konvensional, alias tipikal ibu-ibu rempong. Dia selalu ngabsen anak-anaknya satu-satu kalo mau makan, suka berhemat, tapi juga murah hati dan sangat hangat ke teman-teman anaknya yang sudah akrab. Bu Weasley ini sayang banget dengan Harry, seperti ke anaknya sendiri. Kenapa ketauan sayang? Karena kalo meluk teh meuni eraaat kayak yang kangen banget ke anaknya sendiri. Terus, kalau lagi senang dia memuji, tapi kalo lagi rempong dan Harry menurut dia nggak melakukan hal yang semestinya, dia ikut ngomel. Reminds you of your Mom, huh?

Kelima, you should see how "rainbow" their children are. Bukan rainbow LGBT yah, tapi karakter ketujuh2nya itu sangat berwarna-warni. Ada yang punya passion ke naga, jadi seumur-umurnya ya meneliti, merawat, dan jadi pawang naga sedunia (sampe gak nikah-nikah beroooh!), ada yang berkarir seperti biasa sebagai Auror (semacam polisi di dunia sihir lah), ada yang putus sekolah dan buka toko mainan besar (Fred dan George nih!), ada yang jadi ibu rumah tangga biasa (Ginny!), ada yang berkarir jauuuuh ampe lupain bapak-ibunya (Percy Weasley), dan ada juga yang jadi pengusaha. Buka toko sementara istrinya sukses jadi Perdana Menteri! (nah..yang ini Ron). How "real" the family story is. Beragam karakter dan jalan hidup anak-anak dalam sebuah keluarga yang mungkin akan lo temui di banyak keluarga lainnya.

Again, keunikan keluarga ini yang akhirnya membuat lo yang baca buku Harry Potter, nonton filmnya, atau keduanya, cinta setengah mati. Semua yang unik itu sangat menarik. Tapi, di cerita Harry Potter, fungsi Weasley Family jauh dari sekedar mempermanis cerita. Mereka ada justru sebagai latar utama yang membuat alur fiksi Harry Potter terasa lebih hidup dan nyata. Mungkin karena, seperti yang udah gue katakan di atas, Weasley Family itu gambaran realistis dari keluarga biasa, yang karakternya mungkin bisa lo temui di lingkungan terdekat lo juga.

Yang mana karakter keluarga Weasley favorit lo? Gue sih justru si Weasley yang paling biasa: Ronald Weasley (Ron). Haha!

Kamis, 13 Oktober 2016

Perempuan-Perempuan Itu...

Setengah hari di Rabu minggu lalu, gue yang kebetulan mendapat tugas meliput secara online acara klien kantor, berada di luar. Di luar kantor, maksudnya. Kegiatan liput-meliput secara online ini sebenarnya sudah pernah gue lakukan beberapa kali sebelumnya. Jujur, ini adalah salah satu aktivitas paling menyenangkan buat gue karena definisi "bekerja" tiba-tiba menjadi luas dan menyenangkan.


Khusus hari itu, event klien adalah TechFemme. Talkshow tentang dunia teknologi dengan pembicara leaders cewek untuk menginspirasi anak-anak mahasiswa, terutama yang perempuan. Jujur, gue cukup takjub dengan isi talkshow yang menarik dan disampaikan dengan menarik pula.


Beberapa pembicara perempuan memiliki berbagai posisi penting dan terpenting di perusahaan tempat mereka bernaung masing-masing, yang semuanya berhubungan dengan dunia teknologi. Ada yang pemimpin tertingginya (CEO), ada yang setara head division, ada juga yang memang memiliki usaha itu (semacam owner lah). Sebelum menghadiri acara itu, jauh di dalam hati gue, sebenernya gue sadar pasti ada proses di balik setiap perempuan itu (bahkan yang nggak termasuk ke dalam daftar pembicara) sebelum berhasil menduduki posisi penting mereka kini. Tapi, dengan menghadiri acara tersebut secara langsung, gue makin paham bahwa "real things" have been actually happening to each of them. Bahkan ada salah satu diantaranya yang terang-terangan bercerita ia pernah mengalami masa-masa down (kalau nggak boleh dibilang buruk sih yah) yang begitu dalam. Parahnya, nggak cuma sekali tapi berkali-kali. You know what, cycle of downs ini jelas-jelas ngingetin pada diri gue sendiri yang "batu". Kenapa? Karena kuat dan keras, pernah mengalami berkali-kali masa tidak menyenangkan dalam hidup, masa-masa yang tidak moving sama sekali, masa yang menyeret psikis seseorang untuk terserap lebih dalam ke lubang kemunduran seandainya disikapi dengan lemah juga. Tapi, seperti juga salah satu pembicara yang terang-terangan "curcol" pernah mengalami PHK dan sejenisnya, gue milih untuk terus nyari semua sisi positif di tengah hal-hal negatif yang terjadi. Seriously, cerita mereka sangat menginspirasi.


Sayangnya, karena gue datang ke acara tersebut dengan tujuan live report alias meliput event tersebut secara langsung melalui social media, banyak momen penting ketika pesan-pesan penting terlontar dari mulut mereka, terlewat begitu saja. Gue sih sering menangkap isi pesan mereka, tapi karena fokus gue terbagi-bagi jadi golden lines mereka itu cuma masuk ke short term memory gw. Yang baru juga beberapa menit terus ilang dari "kepala".


Seandainya gue bisa menikmati event itu dengan benar-benar menyimak setiap isinya, pasti inspirasi yang coba dibagi oleh masing-masing pembicara akan jauh lebih gue resapi. Seandainya.


Ada beberapa pesan penting yang masih gue ingat meski justru gue sedikit lupa siapa yang mengeluarkan kalimat-kalimat itu.


1. We're all gonna die. Find yourself to know what makes you comfortable, what you really want. Just relax and enjoy.

2. Setiap orang punya jalan karirnya masing-masing. Kamu nggak bisa ngikutin persis jalan sukses seseorang kalo kamu ingin sesukses dia.

3. Jangan anggap perempuan yang melakukan hal hebat dan menduduki posisi hebat itu hal yang luar biasa karena hal itu wajar-wajar saja. (Maksudnya..perempuan itu emang dari sononya udah hebat. Gausah lebay mandang perempuan yg jagonya minta ampun-Red)

4. If you think you know what real life is, you don't. (Yg ini diucapin seorang leader muda Gojek yg imut tapi pinteeer banget. Dia ngomong ke para dede mahasiswa yang nonton)

5. Setiap beberapa bulan sekali saya memikirkan ulang, adakah yang nggak seimbang dari hidup saya, entah saya kurang menghabiskan waktu di kehidupan pribadi atau sebaliknya. (Kata seorang petinggi sebuah perusahaan teknologi raksasa yang ternyata seorang single parent)

Very pretty, huh? Ketika orang berhasil ngatasin berbagai guncangan hidupnya, bangkit, miracle happens. Meski kata "bangkit" itu sebenernya ya gak segampang itu juga. Hanya yang "batu" yang bisa bangkit.


Karena guncangan itu pasti ada, dan menjadi hancur itu hanya pilihan, bukan kepastian.


What do you think?

Selasa, 23 Agustus 2016

Ketika Jakarta Lupa Macet

Ketika Jakarta lupa macet,
Semua sudah menandai hari
Karena bisa jadi itu berarti
Minggu pagi telah tiba lagi,
Masa ketika sebuah kawasan bebas kendaraan.
Lalu kamu..aku..bebas berlari pagi, meski dengan langit yang tetap abu-abu teracuni.

Ketika Jakarta lupa ia harus macet
Takbir berkumandang seminggu lamanya
Lalu banyak manusia berpesta ria. Merayakan Lebaran, katanya.
Sebagian warga pergi jauh-jauh.
Melupakan Jakarta yang hanya jadi peraduan nasib semata.

Ketika Jakarta lupa ia wajib macet
Turun hujan di tengah hari terik
Airnya berwarna warni, bisa ditelan untuk yang terlalu kehausan,
Lalu pelangi akan tersibak menyertai
Tidak mejikuhibiniu, tapi serba ungu, abu, hitam kelabu.

Ketika Jakarta lupa macet
Aku membuka mata dari sergapan ngantuk
Lalu mengintip ke jendela taksi, sudah sampai dimana sekarang ini?

Ah, rupanya masih 2kilometer menjauhi titik berangkat.
Padahal mimpiku tadi sudah panjang dan lengkap.
Dengan bosan, aku kembali menguap.

Tidak lupa kupesan pak supir berseragam biru: "Pak, kalo udah sampe bilang ya!"



(Malam di Jakarta, 15 September, 08.42 WIB)


Mengecilkan Makna Perpisahan



Tepat ketika saya mengetik tulisan ini, baru kemarin malam ada (lagi) seorang rekan sekantor, yang meski tidak dalam satu tim, berpamitan di hari kerja terakhirnya.

Saya dan orang tersebut tidaklah saling mengenal nama. Kami berada di satu lantai yang sama karena naungan grup perusahaan yang sama pula. Memang tidak seperti biasanya tim yang berbeda perusahaan dan fungsi ini berpamitan hingga ke tim perusahaan lain saat last day. Namun dia melakukan yang sebaliknya. Dan saya sangat menghargai respek orang tersebut.

Bicara tentang perpisahan, saya sebenarnya termasuk ke dalam kategori orang yang mudah sedih ketika siapa saja- ya, siapa saja- berpamitan langsung ke saya di hari terakhir kerjanya.

Bisa dibilang, 90% orang yang berpamitan saat last day itu bikin saya tiba-tiba sendu, lalu kadang merenung. Lebay? Go judging me, tapi saya memang begitu, dari dulu.

Pernah di suatu masa, salah satu teman di kubikel saya berpamitan. Bukan teman dekat, tapi namanya 1 kubikel pasti pernah saling 'nyampah', mengungkapkan perasaan masing-masing pada satu hal atau satu orang tertentu (itu ghibah bukan ya namanya?) :D

Di last day dia, semua biasa saja. Saya baru mellow waktu bertemu dia lagi di depan gedung kantor. Kala dia berpamitan lagi dengan atasannya dengan wajah sedih. Yah, saya ikutan sedih deh. Lucunya, ini membuat atasannya menyangka saya naksir orang ini. Haha! (Kalau masih ada orang berpikiran naif di usia akhir 30-an, saya rasa mantan atasan teman saya itu juaranya. 😂😂)

Bagaimana mungkin saya tidak sedih? Selain karena sikapnya yang baik, humble, dan easy going, jarak duduk dengannya yang dekat membuat rasa kehilangan itu lebih nyata. Persis seperti melihat tetangga pindah. Apalagi posisi dia lalu tidak digantikan oleh orang baru. Semakin hampa bangku itu. Bangku kosong yang tidak pernah diisi lagi.

Kesedihan demi kesedihan selalu datang lagi setiap ada teman/rekan lain yang pamit, dimanapun saya berkantor. Semakin kenal/akrab, rasa sedihnya juga makin serius. Berlebihan memang kalau saya bilang saya membenci perpisahan. Tapi kata orang, ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Dua-duanya harus diterima dengan lapang dada.

Jadi, apa yang sebenarnya bikin saya suka sedih dengan perpisahan rekan kerja? Pertama, ada habit/rutinitas yang sadar atau nggak akan berubah ketika rekan pergi. Meski akan ada pengganti, setiap manusia unik. Tidak ada 2 orang di dunia ini dengan sifat sama persis. Penggantinya bisa jadi lebih baik secara profesional tapi buruk secara sosial, atau sebaliknya sangat menyenangkan sebagai teman tapi merugikan dan mengikis kesabaran sebagai rekan kerja. Kedua, keterlibatan emosi. Terbiasa bekerja dengan rekan baik akan memunculkan rasa kehilangan yang lumayan parah. Beruntunglah jika kamu menemukan pengganti rekan lama yang tidak hanya lebih profesional tapi juga one of a kind, bikin senang. Maksudnya? Bersedia tertawa di depan kamu tapi nggak menjadikan kamu topik hangat saat ia bersama rekan lainnya, membantu diluar scope of works ketika benar-benar dibutuhkan, menemani sesi-sesi stress dengan menertawai tokoh film di bioskop, things like that. Sudahkah kamu bertemu rekan seperti ini?

Jadi, ketika perpisahan sebenarnya begitu krusial, saya sangat..sangat heran di era fleksibel, terbuka, dan semua orang bebas jadi dirinya sendiri ini, masih ada secuil tempat kerja yang tega menarik-ulur pekerjanya dalam waktu singkat: 3 bulan. Ketika sistem personalia dibuat tanpa melibatkan unsur humanisme dan psikologis, mungkin seperti itu jadinya.

Lebih aneh lagi dengan orang-orang yang begitu terbiasanya dengan perpisahan sampai tidak peduli dan bersikap biasa saja saat kehilangan salah satu jarinya: rekan kerja dalam timnya.

Saya berharap, setinggi apapun posisi kamu nanti, jangan jadi imun dengan emosi, ya. Sedih itu sah-sah saja karena kamu manusia. Dan kehilangan itu wajar-wajar saja karena berarti kamu masih punya jiwa; rasa; naluri manusia.

Selasa, 31 Mei 2016

Tentang ojek (bagian 3)

Setelah lama banget gue bermalas-malasan dengan meninggalkan hobi ngeblog gue, akhirnya ada juga masa-masa gue nggak bisa lagi ngeles karena memang saat ini alhamdulillah sedang banyak banget waktu luang! Kata agama gue, dua diantara nikmat manusia yang sering tidak disadari adalah waktu luang dan kesehatan. So, here I am, mensyukuri nikmat yang enaaaak ini dengan mewujudkan tulisan bagian akhir tentang ojek yang lama terbengkalai. Berangkat, bang!

Balik ke soal ojek pangkalan yang jadi langganan gue terakhir, nasib Bambang yang tampak “butuh-gak-butuh” dengan gue ini bikin gue fix banget beralih ke ojek online yang kini bisa mudah gue temuin di sekitar Bogor sejak akhir tahun lalu. Kenapa ojek online? Ya, jujur aja sih. Selain harga mereka relatif lebih murah, kualitas pengemudi dan keamanannya juga jauuuuh lebih terjamin.Padahal sih gue sebenernya somehow kangen dengan "manusiawi"nya si Bambang. Kenapa manusiawi? Doi itu fleksibel banget kalo nungguin gue. Rekor termalam adalah waktu gue minta ditungguin pulang dari bandung, dini hari, lewat dari jam 12. Cadas, kan? Apalagi doi doyan curhat. Curhat..melulu tentang apa aja. Gue jadi nggak ngantuk dibonceng karena curhatan dia yang topiknya beragam, dari mulai mantan pacar, anak abege dia, persoalan di pabrik tempat dia kerja, komplit! Percaya deh. Kalo jadi gue, lo juga pasti bakal suka ama ni orang. :))

Bicara soal ojek online, gue juga rutin menggunakan jasa mereka ketika tiba di stasiun tujuan (di Jakarta) menuju kantor. Apalagi waktu bulan puasa tahun lalu, dan nasib keuangan gue lagi miris-mirisnya sementara tempat kerja gue tepat di jantung kemacetan Jakarta. Casablanca! Nyerah banget deh gue sama kemacetan sepanjang tebet-casablanca. Kayaknya setiap orang yang terjebak di kemacetan area itu, sisi setan-nya akan keluar. Kenapa? Karena pertama-tama mereka akan mengumpat karena kesal. Selanjutnya, karena udah mengumpat juga masih tetap terjebak macet, mereka mulai marah-marah sendiri. Udah marah-marah sendiri di balik kaca helm atau dalam mobil masing-masing, eh ternyata kendaraan mereka masih aja bergerak 5 km/jam. Pelannya kayak kecepatan anak balita turun dari tempat tidur pas dipaksa bangun untuk sekolah. Gue cukup mencoba ngerasain jenis kemacetan setan itu dengan angkot, 2x, dan nyerah. Jadi, apa dong solusinya? Ojek!
Dengan terpaksa, gue harus sebutin brand ojek online di tulisan ini (duh, bayar gue kek Grab! T_T). Pengalaman pertama gue gunain jasa ojek online tuh ya dengan GrabBike. Sebelum berganti jadi hanya “Grab”, dulu memang nama jasa transportasi online ini adalah GrabBike. GrabBike ini tau-tau datang ke Indonesia waktu Gojek lagi heboh-hebohnya (Gojek sekaligus juga dikenal cukup mahal waktu itu). Setelah sukses dengan Grab Taxi (padahal layanan ini kurang populer sekarang. Tergilas sama Uber yang jauh lebih canggih sistemnya), Grab Bike coba menarik penumpang Jakarta dan sekitarnya dengan tarif angkot. Gimana gak mau “angkot”, Cuma 5000, man! Who wouldn’t be happy with such a really low price?

Singkatnya, Grab Bike lalu jadi angkutan wajib gue selama bulan puasa dan seterusnya selama kerja di sekitar Kuningan dan mau nggak mau lewatin Casablanca setiap harinya. 5000 perak setiap pagi dan malam, jago nembus kemacetan, dan otomatis mempersingkat waktu perjalanan yang kalau dengan angkot/mobil pribadi 4 km (Stasiun Tebet-Jalan Prof Dr.Satrio) bisa 45 menit, cukup ditempuh lebih kurang 15 menit dengan Grab Bike. Bo’ong deh kalo gue bilang gue nggak happy dengan sistem transportasi macam itu.

Nah, untuk perjalanan pulang dari stasiun Cilebut ke rumah, karena gak ada Bambang, gue terpaksa menendang jauh-jauh pilihan ojek pangkalan yang suka songong itu (ya iyalah, udah suka nembak tarif, bau, nggak aman, nggak ramah, nggak banget!). Awalnya hanya ada Gojek di sekitar stasiun tersebut. Dan, lucunya mereka dulu akur-akur aja dengan ojek pangkalan. Sampai, datanglah Grab. Gue nggak tau ya siapa yang mulai making o-pang (ojek pangkalan) annoyed. Tapi akhirnya ojek online ini, baik Gojek maupun Grab sama-sama dimusuhin di sekitar Cilebut, dan setau gue juga di seluruh Bogor. Efeknya? Agak susah “ketemuan” dengan mereka, baik Gojek maupun Grab karena suka minta bertemu jauh dari spot opang yang benar-benar strategis, tepat di 2 pintu keluar stasiun. But, who cares? Pun ketika Grab sempat menaikkan tarif beberapa waktu lalu, yang awalnya cuma 10.000 untuk sekitar 2-3 km, terus jadi 16.000 dengan jarak yang sama, gue tetap order mereka. Untuk kenyamanan dan rasa aman, selalu ada harga yang harus lo bayar kan?

Sampai sekarang pun, gue nyaris selalu gunakan ojek online untuk kemanapun, baik saat di Jakarta maupun di Bogor, dan gue relatif lebih sedikit gunakan ojek konvensional meski udah punya langganan opang dekat rumah. Alternatif transportasi berupa ojek online gue rasa cocok banget dengan gue yang sampe saat ini nggak mau beli kendaraan sendiri karena malas belajar mengendarainya. Hahah! Option ojek online juga membuat gue membuang pilihan transportasi lain seperti Kopaja dan Busway, meski busway itu dingin dan murahnya juga setan. Bus biasa masih digunakan tapi..paling kalo keluar kota aja. Hehehehehe!

Kalo ketemu bosnya Gojek yang ganteng itu (Nadiem Makarim), pengen gue peluk erat-erat (kayak Elska meluk boneka Teddy Bear 50cm-nya) sambil bilang “Thank you is not enough. You’re my heeeeeroooooo, maaaaan. By the way, do you have more promo codes I can use?” :p Hahahahah!


(Image source; linkis(dot)com)

Sabtu, 26 Maret 2016

Mana yang lebih ganteng?




Alkisah, Bu Kancil sedang menonton drama Korea di laptopnya dengan anak 5 tahunnya yang bernama Elcil. Iseng, Bu Kancil tiba-tiba mem-pause video dan membuka file poster serial drama Korea yang sedang ditonton dan bertanya ke anaknya,



“Mana yang lebih ganteng, El? Om ini, atau om yang itu?”
“Om yang itu,” ujar Elcil menunjuk pemeran utama pria yang duduknya di tengah.
“Kenapa nggak yang ini?” Bu Kancil nunjuk salah satu pemeran utama pria yang lain, mancing.
“Soalnya om yang itu kan mukanya lucu..” Jawab Elcil.

Sesi nonton pun berlanjut, dan waktu salah satu pemeran pria (bukan pilihan El) muncul lagi, Bu Kancil iseng nanya,
“Tuh liat El. Om yang ini kan ganteng. Tuh.. tuh” Bu Kancil mulai keukeuh dengan “pilihan”nya. Tetap sambil nunjuk-nunjuk muka si pemeran utama yang manly, well-craved itu. :p
“Iiih.. Bunda..tapi aku kan suka yang mukanya lucu…” Elcil mulai bete.

Sesi nonton Korea berlanjut lagi. Lalu, Bu Kancil melakukan percobaan berikutnya. Well, sebenarnya, dalam hati dia masih pengen anaknya berubah pikiran. Muncullah si pemeran utama pria yang bukan pilihan Elcil.
“Tuh..tuh liat El. Mukanya ganteng banget gitu kok. Lebih ganteng kan?” Bu Kancil lagi-lagi nunjuk.
“Bunda ntar aku tinggalin nonton Korea nya nih!” Elcil bete betulan. Mukanya ditekuk.
Bu Kancil pengen ketawa cekikikan. ‘Baiklaaaah. Selera kita beda yaaaaa’ demikian kesimpulan Bu Kancil. Dan voting ditutup. Laptop juga ikutan ditutup. :))

Wassalam.