Kata “every” mungkin kelewat sering didengar dari banyak
tagline iklan, ya. Mungkin memang penambahan “every” terkesan berlebihan. Tapi,
kalimat yang jadi judul tulisan inilah yang benar memang ada dan diulang-ulang
dalam film animasi penuh inspirasi yang baru aja saya tonton beberapa malam lalu:
Zootopia!
Sebenarnya ketertarikan saya berawal dari trailer-nya yang
saya tonton di Youtube. Hmm..film yang menarik nih, pikir saya. Bodohnya, saya
cukup menunda-nunda untuk menonton film tersebut hingga akhirnya, dalam waktu
hanya 2 mingguan, film itu turun dari layar bioskop-bioskop besar (padahal
bioskop besarnya emang Cuma 2 tempat. Haha!) di kota saya: bogor.
Sampai di situ, saya masih cuek. Dalam pikiran saya: “I just
missed another animation film. So what? I can get the downloaded version from
the internet, and watch it freely. So what?” Lalu, satu per satu berita tentang
kesuksesan film animasi ini mulai mengusik saya. Penasaran, saya browse sekali
lagi judul film ini dan ternyata..ia masih tayang di beberapa bioskop besar
Jakarta! Instan saja, saya terpikir untuk nonton selepas bekerja. Kebetulan,
salah satu bioskop di daerah Kuningan memutar film tersebut tepat setelah waktu
pulang kerja. Saya pun ngebut ke bioskop yang letaknya di mall itu. Sempat
tersasar di mall sebentar, akhirnya saya temukan juga bioskopnya, dan..believe
it or not, setelah penayangan yang hampir sebulan, Zootopia masih ramai
ditonton orang! Saya harus puas dengan kursi ketiga dari depan yang perlu
sedikit mendongak untuk menonton filmnya. Yah..daripada balik sia-sia kan, udah
jauh-jauh di-hunting pula. Tapi saya puas, film ini bagus. Bagus banget, malah.
Dimana bagusnya?
Alkisah sebuah kota bernama Zootopia, hiduplah berbagai
jenis hewan modern yang bertingkah layaknya manusia, termasuk juga bisa
berbicara! Judy, si kelinci kecil adalah ras kelinci pertama yang lolos jadi
opsir polisi di Zootopia! Bukannya senang, ia melewati hari-hari pertamanya
sebagai petugas kepolisian dengan banyak tatapan sebelah mata dari hewan-hewan
lain yang nggak menyangka ‘ternyata ada ya hewan sekecil dan selucu kelinci
jadi polisi??” :))
Bersama rubah (yang awalnya ditemui dengan suasana nggak
enak, serba menyebalkan), Judy berhasil memecahkan misteri hilangnya seorang
warga kota yang ternyata berhubungan dengan kasus besar lainnya! Bos kepolisian
yang menyeramkan (ya iyalah, bosnya banteng!) sampai berubah sikap, dari yang
sangat meremehkan hingga jadi sangat respek. Tunggu dulu. Rubah bisa membantu
kelinci? Bisa-bisa aja! Kan di film juga si rubah tersebut mengulang-ulang
kalimat “semua orang bisa jadi apa saja!”. Kalimat itu awalnya diucapkan si
rubah dengan gaya menyindir (sarcasm), tapi belakangan dia baru sadar, ternyata
semua orang memang bisa jadi apapun, melampaui ekspektasi orang asing yang
sebenernya nggak mengenal kualitas dia yang sebenarnya.
Dalam film juga diajarkan untuk saling menghargai dan
bertoleransi dengan keberagaman penduduk kota yang luar biasa beda-bedanya
(mengingatkan saya akan multikulturalnya New York yang dikenal seluruh
dunia-who knows the director was inspired to that big apple city?). Selain itu,
diajarkan agar orang (hewan deeeeh, kan Zootopia! Haha) nggak terbiasa menilai
orang lain berdasarkan ras, dan menghakiminya berdasarkan stereotip yang
menempel ke ras tersebut (dalam film disebutkan, hewan jenis predator punya
insting purba yang sukanya memangsa hewan kecil yang lebih lemah, nggak peduli
seberapa modern-nya si hewan. Judgmental, right?)
Balik lagi ke soal ‘everyone can be everything’, kita juga
harus yakin bahwa nggak ada satupun orang lain yang berhak menentukan seberapa
besar kemampuan kita (tanpa mengetesnya) karena hanya kita yang paling paham
sejauh mana kita bisa berkembang! Try everything, kata Shakira mah. ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar