belakangan ini saya sering dihinggapi rasa sensitif yang agak berlebihan. sedikit-sedikit, kesal. sedikit-sedikit, marah. sedikit-sedikit, tau-tau air mata mengalir begitu saja. seperti ada bongkahan besar beban yang belum keluar dari kepala, dan bikin sesak, jadi kalau ada bongkahan kecil lain masuk, rasanya langsung penuh, dan otak saya tau-tau langsung mumet, hati langsung keruh.
tak masalah kalau ini semua nggak berdampak pada nafsu makan saya. sayang sekali, setiap saya tersinggung, kesal, dan hati benar-benar "menyimpan"nya dengan baik, rasa lapar yang sudah tertahan berjam-jam pun bisa hilang. lagi-lagi saya tidak nafsu makan.
jauh di dalam hati, saya ngerti kalau jumlah asupan makanan saya berpengaruh pada jumlah makanan Elska. makanan utamanya. ASI nya. sayang sekali kalau anugerah yang udah dikasih Allah, untuk "my alive treasure" itu enggak dipertahankan dengan bijaksana. kasihan sekali Elska, kalau tiap malam saya sensitif, ia yang harus tidak puas makan karena jumlahnya kurang, di esok paginya.
awalnya saya cuek saja. mengikuti mau sendiri.tapi lama-lama saya sadar juga. kesensitifitasan saya adalah awal hancurnya tiang saya sendiri.
saya adalah penopang hidup anak, jadi kalau mental saya lemah, perasaan saya labil, tindakan saya egois, yang terkena dampak terbesar pasti El.apa jadinya kalau saya terus-menerus menyimpan kekesalan dan bertahan tidak makan seharian penuh? apa jadinya kalau saya sakit dan lemah? korban utamanya pasti El. awalnya dia bakal kehilangan haknya, asupan gizi alami terbaiknya, asi, lalu berturut-turut hilang pula perhatian dan penjagaan 24jam saya karena sakit. begitu panjang dampaknya. begitu besar akibatnya.
saya adalah tiang pancang diri sendiri dan anak. jadi harus selalu, selalu, dan selalu kuat. bukan hanya fisik, tapi batin. mungkin malah batin yang terutama. karena kesehatan jiwa dan hati sangat mempengaruhi kualitas kesehatan fisik. semuanya harus sehat dan seimbang. fisik, mental, dan hati. sumbernya masing-masing ya dari makanan dan pola hidup sehat, pikiran positif, berteman dan bercengkerama dengan orang-orang yang membawa nilai positif, dan tentunya mempertinggi kualitas hubungan dengan Dia. karena cuma Dia yang bisa "menciptakan ujian" sekaligus "kunci jawabannya". Subhanallah!
saya nggak minta apa-apa, teman-teman. cukup doa saja. kalau tak bisa, cukup beberapa kata penyemangat saja. kalau tak bisa, cukup senyuman saja. itu saja sudah sangat menguatkan tiang saya. tiang yang selama ini saya pancang dan saya pertahankan sendirian.
sebenarnya, saya cinta banget kok dengan hidup saya. :)
(bogor, 10 april 2011)
Cerita keseharian Bu Mecil beserta perasaannya, dan imajinasinya, dan para rekannya yang aneh-aneh.
Minggu, 10 April 2011
Minggu, 30 Januari 2011
mbak, saya mau beli pasir buat muka mbak!
pasir? kenapa harus pasir? karena banyak benda di sekitar kita yang bentuknya mirip pasir, tapi jelas bukan pasir! jadi kenapa harus bingung kalau ketemu kata yang ada pasirnya??
sore ini saya pergi berbelanja dengan mama. namanya juga perempuan, selalu tertarik dengan segala sesuatu yang ada tulisan "sale", "diskon", "gratis", dan sejenisnya. tulisan seperti itu juga saya temui di supermarket ini (ya kalo ini beneran bisa dibilang "super" ya.). tulisan itu menyebutkan, membeli produk tertentu sejumlah tertentu akan mendapatkan gula pasir 1 kg. hm.. lumayan juga ya. gula pasir 1 kilo udah nggak dapet 10ribuan lagi harganya.
karena kebetulan saya juga mau beli produk itu, saya genapin aja jumlahnya sampai dengan nominal minimum agar bisa mendapatkan pasir, eh, gula pasir. sampai di kasir, saya udah punya perasaan gak enak. pertama, dari empat kasir, yang dibuka cuma dua. jadi yang ngantri ya banyak. kedua, saya lihat si mbak2 kasirnya bertampang gak ramah. u know, sering kita keburu menilai orang dari tampangnya. tapi beneran deh. buat yang 1 ini, perasaan saya kuat sekali kalau mbak kasir itu orang yang menyebalkan.
bener aja. waktu giliran belanjaan saya dihitung, saya mengkonfirmasi pasir, eh, gula pasir gratisan itu. begini kira-kira reka kejadiannya (jiaaaah!)
buKancil: mbak, kalau beli blah blah blah dapet gula pasir 1 kg kan?
mbakjutekjeleksokcantik: hah? apa?
buKancil: bleh bleh bleh (gak perlu diulang dong, wong sama aja kok kalimatnya)
mbakjutekjeleksokcantik: pasir? apa sih?
buKancil: gula pasir
mbakjutekjeleksokcantik: oh, nggak tau. bayar dulu nih *sambil nunjuk angka dalam layar di mesin kasir*
anjrit. saya diperlakukan mirip pengutil yang ketauan ngutil tapi mangkir trus gamau bayar, yang dalam bayangan saya seperti ini
pengutil: mbak, beneran deh saya tuh nggak mengutil, cuma mengecil
mbak kutil: hah? hapah?
pengutil: saya mengecil. bukan mengutil. liat aja rak obat kutil, nggak ada yang ilang kan?
mbak kutil: kutil? emang saya punya kutil kok. semua juga tau, nggak usah dibahas. mending kamu bayar barang curian kamu. bayaaaaaar!
kalimat terakhir dari si mbak prikitil kutil itu adalah dia gak tau menau hal begituan. itu bukan bagian dari supermarket (baca: Ramayana), dan tanya aja langsung ke spg produknya. itupun dia ucapkan setelah seorang temennya bilang kalo ada promosi pasir2an, eh gula pasir di konter blah blah.
hedeeew, emosi lah saya. tapi gapapa lah. saya tetap berjalan dengan sabar menuju konter produk yang dituju, berharap mbak kutil itu jujur dengan kata "spg"nya, karena seingat saya nggak ada satupun spg produk tertentu. yang ada hanya spg umum untuk superkampret, eh, supermarket itu.
meski dengan hati dongkol, saya bisa juga menemui spg supermarket yang jauh lebih ramah dan bertanggungjawab daripada si mbak kutil, dan mendapatkan pasir2an, eh, gula pasir yang saya butuhkan.
terus kenapa saya masih mengomel?
karena saya sudah lama sekali merasa tak nyaman dengan supermarket itu. kehadiran saya di sana sore ini juga karena terpaksa. ngikutin mau mama.
ada hal2 vital yang sangat salah dengan tempat belanja itu
1. spg atau spb-nya tidak menarik dan tidak profesional.
jarang saya temui spg atau spb-nya menarik secara fisik. jangankan menarik. berusaha terlihat menarik pun nggak. ada yang dandan seadanya lah, rambut dan bajunya kurang rapi lah, judes lah, dll. saya bicara soal fisik dan penampilan karena mereka representasi perusahaan secara langsung. kalau mereka saja nggak berusaha terlihat menarik, bisa ditebak bagaimana pimpinannya, atau bagaimana manajemennya kurang serius melayani pelanggan dengan baik.
tidak profesional karena mereka sering kelihatan nggak punya waktu lain untuk mengurusi masalah mereka masing-masing kecuali saat bekerja. curhat itu asik. tapi mereka nggak dibayar untuk curhat dan tidak mempedulikan pelanggan, kan?
2. produk pasar, harga mall
pernah belanja di pasar? well, jangan kaget dengan harganya karena ada harga, ya ada juga kualitas. harga setengah dari mall, daya tahannya pun cuma setengah.
itu biasa.
tapi produk-produk di tempat belanja ini sungguh-sungguh kualitas pasar. kenapa saya bisa sesotoy ini? ups. coba saja sentuh pakaian yang mereka jual. tidak berbeda dengan yang dijual di pasar, bahkan emperannya pasar. harganya? wow. sangat normal. senormal sebuah department store menjual barang berkualitas.jadi, hukum "ada uang ada barang" nggak berlaku di tempat ini. "uang" sih ada. "barang"nya? well, silakan coba sendiri.
3. tidak mengikuti perkembangan zaman.
ini sudah 2011. supermarket, bahkan supernya supermarket (apa ya namanya? hypermarket?) sudah menjamur di mana-mana. dengan tempat yang lebih luas, penataan produk yang lebih teratur, terorganisir, dan selalu rapi, ditambah tempat yang selalu bersih dan spg/spb yang selalu bisa ramah.
bukannya berkaca dari kemajuan pusat perbelanjaan, tempat belanja ini tetap saja mempertahankan kekunoannya. tempat kecil, kurang teratur, fasilitas timbangan buah/sayur yang seadanya, kasir yang menyedihkan, dll.
hng.. saya yang tadinya ingin mendamprat kasir itu jadi memaklumi. karyawan yang baik, selain karena bawaan pribadi masing2, pasti buah dari didikan dan training yang baik, ditambah gaji yang memadai, meski tidak bisa dibilang selalu mencukupi. nah, kalau kasirnya saja semenyebalkan itu, saya bisa bayangkan bagaimana sebenarnya ia diperlakukan perusahaannya. gajinya kecil dan tidak mencukupi kebutuhannya. apa dia lantas punya pilihan? tidak. dia cuma lulusan sekolah menengah yang butuh pekerjaan dan si perusahaan sangat butuh orang seperti dia untuk dibayar rendah.
dunia kejam, bukan??
sore ini saya pergi berbelanja dengan mama. namanya juga perempuan, selalu tertarik dengan segala sesuatu yang ada tulisan "sale", "diskon", "gratis", dan sejenisnya. tulisan seperti itu juga saya temui di supermarket ini (ya kalo ini beneran bisa dibilang "super" ya.). tulisan itu menyebutkan, membeli produk tertentu sejumlah tertentu akan mendapatkan gula pasir 1 kg. hm.. lumayan juga ya. gula pasir 1 kilo udah nggak dapet 10ribuan lagi harganya.
karena kebetulan saya juga mau beli produk itu, saya genapin aja jumlahnya sampai dengan nominal minimum agar bisa mendapatkan pasir, eh, gula pasir. sampai di kasir, saya udah punya perasaan gak enak. pertama, dari empat kasir, yang dibuka cuma dua. jadi yang ngantri ya banyak. kedua, saya lihat si mbak2 kasirnya bertampang gak ramah. u know, sering kita keburu menilai orang dari tampangnya. tapi beneran deh. buat yang 1 ini, perasaan saya kuat sekali kalau mbak kasir itu orang yang menyebalkan.
bener aja. waktu giliran belanjaan saya dihitung, saya mengkonfirmasi pasir, eh, gula pasir gratisan itu. begini kira-kira reka kejadiannya (jiaaaah!)
buKancil: mbak, kalau beli blah blah blah dapet gula pasir 1 kg kan?
mbakjutekjeleksokcantik: hah? apa?
buKancil: bleh bleh bleh (gak perlu diulang dong, wong sama aja kok kalimatnya)
mbakjutekjeleksokcantik: pasir? apa sih?
buKancil: gula pasir
mbakjutekjeleksokcantik: oh, nggak tau. bayar dulu nih *sambil nunjuk angka dalam layar di mesin kasir*
anjrit. saya diperlakukan mirip pengutil yang ketauan ngutil tapi mangkir trus gamau bayar, yang dalam bayangan saya seperti ini
pengutil: mbak, beneran deh saya tuh nggak mengutil, cuma mengecil
mbak kutil: hah? hapah?
pengutil: saya mengecil. bukan mengutil. liat aja rak obat kutil, nggak ada yang ilang kan?
mbak kutil: kutil? emang saya punya kutil kok. semua juga tau, nggak usah dibahas. mending kamu bayar barang curian kamu. bayaaaaaar!
kalimat terakhir dari si mbak prikitil kutil itu adalah dia gak tau menau hal begituan. itu bukan bagian dari supermarket (baca: Ramayana), dan tanya aja langsung ke spg produknya. itupun dia ucapkan setelah seorang temennya bilang kalo ada promosi pasir2an, eh gula pasir di konter blah blah.
hedeeew, emosi lah saya. tapi gapapa lah. saya tetap berjalan dengan sabar menuju konter produk yang dituju, berharap mbak kutil itu jujur dengan kata "spg"nya, karena seingat saya nggak ada satupun spg produk tertentu. yang ada hanya spg umum untuk superkampret, eh, supermarket itu.
meski dengan hati dongkol, saya bisa juga menemui spg supermarket yang jauh lebih ramah dan bertanggungjawab daripada si mbak kutil, dan mendapatkan pasir2an, eh, gula pasir yang saya butuhkan.
terus kenapa saya masih mengomel?
karena saya sudah lama sekali merasa tak nyaman dengan supermarket itu. kehadiran saya di sana sore ini juga karena terpaksa. ngikutin mau mama.
ada hal2 vital yang sangat salah dengan tempat belanja itu
1. spg atau spb-nya tidak menarik dan tidak profesional.
jarang saya temui spg atau spb-nya menarik secara fisik. jangankan menarik. berusaha terlihat menarik pun nggak. ada yang dandan seadanya lah, rambut dan bajunya kurang rapi lah, judes lah, dll. saya bicara soal fisik dan penampilan karena mereka representasi perusahaan secara langsung. kalau mereka saja nggak berusaha terlihat menarik, bisa ditebak bagaimana pimpinannya, atau bagaimana manajemennya kurang serius melayani pelanggan dengan baik.
tidak profesional karena mereka sering kelihatan nggak punya waktu lain untuk mengurusi masalah mereka masing-masing kecuali saat bekerja. curhat itu asik. tapi mereka nggak dibayar untuk curhat dan tidak mempedulikan pelanggan, kan?
2. produk pasar, harga mall
pernah belanja di pasar? well, jangan kaget dengan harganya karena ada harga, ya ada juga kualitas. harga setengah dari mall, daya tahannya pun cuma setengah.
itu biasa.
tapi produk-produk di tempat belanja ini sungguh-sungguh kualitas pasar. kenapa saya bisa sesotoy ini? ups. coba saja sentuh pakaian yang mereka jual. tidak berbeda dengan yang dijual di pasar, bahkan emperannya pasar. harganya? wow. sangat normal. senormal sebuah department store menjual barang berkualitas.jadi, hukum "ada uang ada barang" nggak berlaku di tempat ini. "uang" sih ada. "barang"nya? well, silakan coba sendiri.
3. tidak mengikuti perkembangan zaman.
ini sudah 2011. supermarket, bahkan supernya supermarket (apa ya namanya? hypermarket?) sudah menjamur di mana-mana. dengan tempat yang lebih luas, penataan produk yang lebih teratur, terorganisir, dan selalu rapi, ditambah tempat yang selalu bersih dan spg/spb yang selalu bisa ramah.
bukannya berkaca dari kemajuan pusat perbelanjaan, tempat belanja ini tetap saja mempertahankan kekunoannya. tempat kecil, kurang teratur, fasilitas timbangan buah/sayur yang seadanya, kasir yang menyedihkan, dll.
hng.. saya yang tadinya ingin mendamprat kasir itu jadi memaklumi. karyawan yang baik, selain karena bawaan pribadi masing2, pasti buah dari didikan dan training yang baik, ditambah gaji yang memadai, meski tidak bisa dibilang selalu mencukupi. nah, kalau kasirnya saja semenyebalkan itu, saya bisa bayangkan bagaimana sebenarnya ia diperlakukan perusahaannya. gajinya kecil dan tidak mencukupi kebutuhannya. apa dia lantas punya pilihan? tidak. dia cuma lulusan sekolah menengah yang butuh pekerjaan dan si perusahaan sangat butuh orang seperti dia untuk dibayar rendah.
dunia kejam, bukan??
Minggu, 16 Januari 2011
kancil di negeri jerapah, episode "tes DNA"
(ini cuma cerita biasa, di hari biasa, oleh orang-orang biasa, dengan pengalaman biasa)
tokoh-tokoh utama
Bu Kancil: ibu guru yang senantiasa berusaha tetap hidup dan bernafas tiap kali selesai mengajar kelas-kelas hewan pengerat sejenis marmut dan hewan-hewan super kecil dan cerdas, semut.
Semut 1: anggota kelas semut yang terlalu terobsesi sinetron
semut 2: anggota kelas semut yang lebih logis tapi tetap tak bisa berbahasa jerapah
di suatu siang yang panas.. di sebuah kelas sejuk nan empuk...
bu Kancil: (dengan bahasa bangsa jerapah) yak, anak-anak, pertama-tama, gambar dulu ibu kalian, dari kepala sampai kaki, dalam kotak yang ada di kertas itu.
semut-semut bengong.
bu Kancil: masih ingat gimana wajah ibu kalian, kan? nah, sekarang, gambar ibu kalian yaaaa
semut-semut mulai ngambil pensil masing-masing dan menggambar apa yang mereka sebut "ibu". bu kancil mondar-mandir, ngeliatin usaha murid-muridnya, trus berhenti di sebuah kursi yang didudukin semut 1
bu Kancil: sudah gambar ibu-nya?
semut 1: (dengan bahasa bangsa kancil) sudah...
bu Kancil memperhatikan hasil gambar semut 1 dan kaget campur bingung. gambar "ibu" yang ditunjukkan semut1 kok lebih mirip kepala kelinci??
bu Kancil: (masih berusaha ber"budaya" dengan bahasa jerapah) ini beneran gambar ibu kamu?
semut 1: iyaaaa
bu kancil setengah mati nahan nyengir.
belum selesai keanehan pertama, semut 1 udah bikin keajaiban lain. dia terlihat nulis-nulis sesuatu dalam kertas yang dikasih bu Kancil. Bu Kancil merhatiin dengan bingung.
bu Kancil: (dalam hati) perasaan tadi gue suruh bagian kosong itu diisi nama. kenapa jadi panjang banget tulisan tuh anak?
semut1: (ngoceh dalam bahasa bangsa Kancil) ...Ini adalah hasil tes DNA. ...Amira adalah anak dari bapak...blahblahblah...dan ibu...blahblahblah... sedangkan....blahblah... adalah anak dari...blahblah..
bu Kancil tambah bingung. dalam benaknya, ia bertanya-tanya.pertama, kenapa semut sekecil itu tau tes DNA? kedua, bisa aja sih dia abis ngelakuin tes DNA. tapi buat apaaa? buat apa anak yang ngomongnya masi belepotan itu ikut tes DNA segala? ketiga, ngapain tes DNA-nya ditulis-tulis dalam kertas aktivitas dari gue??
semut 2: oooh, putri yang ditukar.
bu Kancil: (tetap diam, bingung, gak nyambung)
semut 2:putri yang ditukar...
bu kancil mulai ngeh.rupanya kalimat yang baru diucapin semut 2 adalah judul salah satu sinetron. jadi tes DNA yang bikin semut 1 ngoceh adalah hasil "kecerdasan" dia menghafal dialog atau narasi sinetron.Gokiiiil!
Maka, bu Kancilpun udah nggak tahan lagi. dia mulai cengar-cengir nahan ketawa di depan semut 1.rupanya, semut 2 (yang duduknya sebelahan sama semut 1) juga merhatiin bu Kancil dan ikutan senyum. semut 2 satu-satunya saksi betapa "istimewa"nya semut 1
semut 2: miiiiss!
bu Kancil: yyyyaaa?
semut 2: (sambil nunjuk ke arah semut 1) dia... huweeeek!
semut 2 berusaha nunjukin gerakan muntah.
jadi, bu Kancil pun berusaha menginterpretasi maksud bahasa Tagalog goblok semut 2.hasilnya adalah: "miss...semut 1 tuh menjijikkan/she's disgusting, miss!"
bu Kancil pun gak tahan lagi. dia mulai senyam-senyum sendiri di kelas absurd yang berisi semut-semut ajaib yang salah satunya ternyata korban sinetron...!
*gubrak*
bersambung
tokoh-tokoh utama
Bu Kancil: ibu guru yang senantiasa berusaha tetap hidup dan bernafas tiap kali selesai mengajar kelas-kelas hewan pengerat sejenis marmut dan hewan-hewan super kecil dan cerdas, semut.
Semut 1: anggota kelas semut yang terlalu terobsesi sinetron
semut 2: anggota kelas semut yang lebih logis tapi tetap tak bisa berbahasa jerapah
di suatu siang yang panas.. di sebuah kelas sejuk nan empuk...
bu Kancil: (dengan bahasa bangsa jerapah) yak, anak-anak, pertama-tama, gambar dulu ibu kalian, dari kepala sampai kaki, dalam kotak yang ada di kertas itu.
semut-semut bengong.
bu Kancil: masih ingat gimana wajah ibu kalian, kan? nah, sekarang, gambar ibu kalian yaaaa
semut-semut mulai ngambil pensil masing-masing dan menggambar apa yang mereka sebut "ibu". bu kancil mondar-mandir, ngeliatin usaha murid-muridnya, trus berhenti di sebuah kursi yang didudukin semut 1
bu Kancil: sudah gambar ibu-nya?
semut 1: (dengan bahasa bangsa kancil) sudah...
bu Kancil memperhatikan hasil gambar semut 1 dan kaget campur bingung. gambar "ibu" yang ditunjukkan semut1 kok lebih mirip kepala kelinci??
bu Kancil: (masih berusaha ber"budaya" dengan bahasa jerapah) ini beneran gambar ibu kamu?
semut 1: iyaaaa
bu kancil setengah mati nahan nyengir.
belum selesai keanehan pertama, semut 1 udah bikin keajaiban lain. dia terlihat nulis-nulis sesuatu dalam kertas yang dikasih bu Kancil. Bu Kancil merhatiin dengan bingung.
bu Kancil: (dalam hati) perasaan tadi gue suruh bagian kosong itu diisi nama. kenapa jadi panjang banget tulisan tuh anak?
semut1: (ngoceh dalam bahasa bangsa Kancil) ...Ini adalah hasil tes DNA. ...Amira adalah anak dari bapak...blahblahblah...dan ibu...blahblahblah... sedangkan....blahblah... adalah anak dari...blahblah..
bu Kancil tambah bingung. dalam benaknya, ia bertanya-tanya.pertama, kenapa semut sekecil itu tau tes DNA? kedua, bisa aja sih dia abis ngelakuin tes DNA. tapi buat apaaa? buat apa anak yang ngomongnya masi belepotan itu ikut tes DNA segala? ketiga, ngapain tes DNA-nya ditulis-tulis dalam kertas aktivitas dari gue??
semut 2: oooh, putri yang ditukar.
bu Kancil: (tetap diam, bingung, gak nyambung)
semut 2:putri yang ditukar...
bu kancil mulai ngeh.rupanya kalimat yang baru diucapin semut 2 adalah judul salah satu sinetron. jadi tes DNA yang bikin semut 1 ngoceh adalah hasil "kecerdasan" dia menghafal dialog atau narasi sinetron.Gokiiiil!
Maka, bu Kancilpun udah nggak tahan lagi. dia mulai cengar-cengir nahan ketawa di depan semut 1.rupanya, semut 2 (yang duduknya sebelahan sama semut 1) juga merhatiin bu Kancil dan ikutan senyum. semut 2 satu-satunya saksi betapa "istimewa"nya semut 1
semut 2: miiiiss!
bu Kancil: yyyyaaa?
semut 2: (sambil nunjuk ke arah semut 1) dia... huweeeek!
semut 2 berusaha nunjukin gerakan muntah.
jadi, bu Kancil pun berusaha menginterpretasi maksud bahasa Tagalog goblok semut 2.hasilnya adalah: "miss...semut 1 tuh menjijikkan/she's disgusting, miss!"
bu Kancil pun gak tahan lagi. dia mulai senyam-senyum sendiri di kelas absurd yang berisi semut-semut ajaib yang salah satunya ternyata korban sinetron...!
*gubrak*
bersambung
Jumat, 30 Juli 2010
27th of July 2010
Wait. What’s the date today? I have even forgotten it. It feels like my days are going soooo slow these last months. Luckily, I’m not “trapped” again in situation whereI can’t find happiness left.
Okay. Based on the calendar, it’s 27th of July now. So it’s.... 18 days left.
What...what should I do to fill this “waiting” time? Not much. Playing games a lot I guess is what I do lately. The games that, in fact, makes me even more bored. but I think it’s better than do nothing.
By the way, I’ve found 2 versions of name. It’s all related to fasting month. But... it doesn’t mean I really want it to happen exactly at the time. I mean, sooner maybe better. Coz it’s so much harder of being puffy like this ( I guess it’s good if men try to experience this so that they’ll stop staring at any kind of fat-belly women. What do you think?).
I really want to make something in this kind of time. Like... making short stories, or even a part of a novel. Still, this laziness ”forces” me to look at laptop’s screen with blank idea. (un)creativity virus really crawl my head.
By the way again... I felt a bit surpise finding him really concerned on what I’ll experience. He looks just so worried. Well, he finally knows the difference of life and death and the situation in between, the natural strength of women given by God, the importance of appreciating mothers all around the world.
I don’t know whether it will be easy or not. But I always ask Him to ease my way, always. And may God bless me in His way.ameen.
I love you, Ashaumy/Ashauman! I really do.
Okay. Based on the calendar, it’s 27th of July now. So it’s.... 18 days left.
What...what should I do to fill this “waiting” time? Not much. Playing games a lot I guess is what I do lately. The games that, in fact, makes me even more bored. but I think it’s better than do nothing.
By the way, I’ve found 2 versions of name. It’s all related to fasting month. But... it doesn’t mean I really want it to happen exactly at the time. I mean, sooner maybe better. Coz it’s so much harder of being puffy like this ( I guess it’s good if men try to experience this so that they’ll stop staring at any kind of fat-belly women. What do you think?).
I really want to make something in this kind of time. Like... making short stories, or even a part of a novel. Still, this laziness ”forces” me to look at laptop’s screen with blank idea. (un)creativity virus really crawl my head.
By the way again... I felt a bit surpise finding him really concerned on what I’ll experience. He looks just so worried. Well, he finally knows the difference of life and death and the situation in between, the natural strength of women given by God, the importance of appreciating mothers all around the world.
I don’t know whether it will be easy or not. But I always ask Him to ease my way, always. And may God bless me in His way.ameen.
I love you, Ashaumy/Ashauman! I really do.
July, 20th 2010
It’s 25 days away to that day. the D-day. Again, time goes just so fast, isn’t it? Well, while I’m counting the days left, I suddenly realize something. Counting the days to that days means, whether I like it or not, I would face that situation. The time when I think everything stops and watches me battling in the edge of life, but actually everything goes just as normal as birds flying, wind blowing, weathers changing, urban people working, and public transport moving (hehe).
I dunno why but this word comes in mind since yesterday. Brainwash. Yup. The days I spent those months feels like a dream. Or.. even a nightmare. The life I’ve spent feels just so weird compared to these days since I live in here, close to my family. The life I get here is so normal. This is exactly the life I have for the whole of my life. The life when I shouldn’t work so hard to have something to eat, to read, to play with, to watch, and even to laugh.
So what is it all with the word “brainwash”? Hmm.. my close people, let’s say my mommy, my friends, wake me up from what I call nighmare. Those dreams that made me lost. Those beliefs that made me trust him. Trust. This is also the word that lately has gone from my mind. I feel no trust in him again.
Wise people say, Trust is the key to keep “it”. So, when it’s lost, everything becomes too fragile to be kept. So fragile that it’s in vain if we still try to keep them. The words I often heard are, “ how could you trapped in that kind of person?” or “u know it’s bad, but how come u still want it?” that’s the words. That’s making me realize on how far I am from the “track” I used to walk on. The track I trust, the straight track that made achieve few things I thought I could never get.
So it’s brainwash. Or the other word of “an effort to make me realize of something wrong I did”. The question is, “will I really back to the “track”, leaving all those nightmares I experienced those last months?” Yes, I will. I definitely will choose the people who really know me and all qualities I have, love me, care for me, never leave me, and always honest. I’ll back right to the track after I successfully finish what I’ve started.
I just hope everything goes as good as I want. Ameen.
I dunno why but this word comes in mind since yesterday. Brainwash. Yup. The days I spent those months feels like a dream. Or.. even a nightmare. The life I’ve spent feels just so weird compared to these days since I live in here, close to my family. The life I get here is so normal. This is exactly the life I have for the whole of my life. The life when I shouldn’t work so hard to have something to eat, to read, to play with, to watch, and even to laugh.
So what is it all with the word “brainwash”? Hmm.. my close people, let’s say my mommy, my friends, wake me up from what I call nighmare. Those dreams that made me lost. Those beliefs that made me trust him. Trust. This is also the word that lately has gone from my mind. I feel no trust in him again.
Wise people say, Trust is the key to keep “it”. So, when it’s lost, everything becomes too fragile to be kept. So fragile that it’s in vain if we still try to keep them. The words I often heard are, “ how could you trapped in that kind of person?” or “u know it’s bad, but how come u still want it?” that’s the words. That’s making me realize on how far I am from the “track” I used to walk on. The track I trust, the straight track that made achieve few things I thought I could never get.
So it’s brainwash. Or the other word of “an effort to make me realize of something wrong I did”. The question is, “will I really back to the “track”, leaving all those nightmares I experienced those last months?” Yes, I will. I definitely will choose the people who really know me and all qualities I have, love me, care for me, never leave me, and always honest. I’ll back right to the track after I successfully finish what I’ve started.
I just hope everything goes as good as I want. Ameen.
30 days left
Time goes by so fast that it’s about 30 days left to the day. The D-day. I should confess that the time I’ve been through lately was so hard. Well, “hard” is actually not enough to describe how complex the days were. However, I still feel grateful to live and survive in a bundle of problems I got.
Many says “be patient”. Yes, that’s the key. No one would deny the power of patience. But it’s still too hard to just accept the word. Since, I think, if they never experience what I got, they would never understand. Many women I guess would just commit to suicide, or suddenly become a freak soon after they know they should face this kind of labyrinth. Labyrinth of problem. Wherever they try to run away, they’ll face the very same dead end, which covered with troubles. The choices are, Face it or Trapped and die. A very interesting “game”, isn’t it?
Still, today, when there are 30 days, or so, left, I still feel grateful to live strong, quiet happy, and normal. I should feel it because of the existence of my family. They are where I run into in this kind of situation. And, amazingly, they still accept me.
Being so much more positive these months, I rarely feel regret. So instead of reminding those days when I slipped and fell, I try to focus on the D-day. This is not the time to recall the past again. No, not again. If I wanna be happy, I should face the future.
God, please lead me the way.
Many says “be patient”. Yes, that’s the key. No one would deny the power of patience. But it’s still too hard to just accept the word. Since, I think, if they never experience what I got, they would never understand. Many women I guess would just commit to suicide, or suddenly become a freak soon after they know they should face this kind of labyrinth. Labyrinth of problem. Wherever they try to run away, they’ll face the very same dead end, which covered with troubles. The choices are, Face it or Trapped and die. A very interesting “game”, isn’t it?
Still, today, when there are 30 days, or so, left, I still feel grateful to live strong, quiet happy, and normal. I should feel it because of the existence of my family. They are where I run into in this kind of situation. And, amazingly, they still accept me.
Being so much more positive these months, I rarely feel regret. So instead of reminding those days when I slipped and fell, I try to focus on the D-day. This is not the time to recall the past again. No, not again. If I wanna be happy, I should face the future.
God, please lead me the way.
Jumat, 27 November 2009
KUKIRIMKAN UNTUKMU TIAP HARI
Kukirimkan padamu tiap hari
Pesan-pesan penuh kata berarti
Yang asalnya dari hati, dalam sekali
Kutitipkan harap kepada Dia
Semoga tidurmu nyenyak, mimpimu indah
Tak lupa sebungkus kecil cinta, untukmu saja
Hanya sekarang ini
Aku berani katakan semua
Tiap malam, ketika bulan tenggelam
Meski kau tak pernah peduli
Tetap kukirimkan padamu puisi
Tiap hari..
(290208) – pagi di Kansas yang sepi, hijau, dan dingin.
Pesan-pesan penuh kata berarti
Yang asalnya dari hati, dalam sekali
Kutitipkan harap kepada Dia
Semoga tidurmu nyenyak, mimpimu indah
Tak lupa sebungkus kecil cinta, untukmu saja
Hanya sekarang ini
Aku berani katakan semua
Tiap malam, ketika bulan tenggelam
Meski kau tak pernah peduli
Tetap kukirimkan padamu puisi
Tiap hari..
(290208) – pagi di Kansas yang sepi, hijau, dan dingin.
Langganan:
Postingan (Atom)